SITUS MEDANG KAMULAN


SITUS MEDANG KAMULAN

PENGGALIAN SITUS LIYANGAN MATARAM KUNO HINDU-BUDHA
DITEMANGGUNG - MAGELANG


(Artikel ini berasal dari grup Majapahit di FB yang saya ikuti dan saya tayang ulang sebagai bahan bacaan pribadi)

Foto: Situs Liyangan di Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (23/12/2011). Situs Liyangan ditemukan di bawah Gunung Sindoro di Kabupaten Temanggung pada kedalaman delapan meter di bawah permukaan tanah. Di sekitar candi ditemukan pula bangunan rumah yang mengindikasikan adanya permukiman penduduk.
Di kaki Gunung Sindoro, terik matahari terasa menyengat. Peluh membasahi tubuh Yanto (32), petambang dan petani di Dusun Liyangan, Desa Purbosari, Temanggung, Jawa Tengah. Namun, ia tak surut mendongkel batu besar yang tertanam lekat di dinding terjal dengan linggisnya.
"Kami ingin melandaikan dinding terjal ini. Setelah itu, kami uruk dengan tanah permukaan lagi agar subur dan bisa ditanami," ujar Yanto sambil terus menancapkan linggis.
Selama bertahun-tahun, Yanto dan warga Liyangan lain menambang batu di lereng gunung yang terpencil itu. Mereka tak mengira, di balik pasir dan batu itu tersimpan jejak peradaban dari masa lalu.
Hingga tahun 2008, penggali pasir itu menemukan batu yoni, arca Ganesha, lumpang, batu pipisan, dan batu bulat panjang yang biasa digunakan untuk menghaluskan jamu. Pecahan mangkuk keramik juga ditemukan.
Sebagian benda peninggalan peradaban kuno itu disimpan di rumah Kepala Dusun Liyangan Riyatno Wardoyo (43), termasuk pecahan mangkuk keramik itu. Di kamar belakang Riyatno tergeletak alat cetak logam yang terbuat dari tanah liat, juga guci kecil yang hiasannya masih sangat kasar.
Riyatno beberapa kali mencoba menggabungkan pecahan keramik itu, tetapi selalu gagal. Hingga siang itu, 23 Desember 2011, Niken Wirasanti, arkeolog dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, berseru gembira saat berhasil menggabungkan pecahan keramik itu menjadi satu mangkuk yang utuh. "Keramik dari China ini bisa menjadi petunjuk sudah ada hubungan dengan dunia luar sejak sekitar abad ke-8 Masehi," ujar Niken.
Sementara dari temuan guci kuno yang somplak pada bagian mulutnya itu, Niken meyakini masyarakat saat itu telah membuat gerabah sendiri. Guci itu dibuat oleh masyarakat Liyangan. Teknik pembuatannya masih kasar.
Di rumah Riyatno juga terdapat beberapa patung setengah jadi. Pembuatan patung tidak diteruskan karena ada kesalahan saat memahat sehingga bagian yang seharusnya menjadi tangan atau kepala patah. Satu patung tanpa kepala diduga akan dibuat menjadi Ganesha dengan melihat postur patung yang berperut buncit, posisi duduk, dan bagian belalai yang patah. Ada juga patung yang kepalanya patah separuh yang diduga akan dibuat menjadi patung Durga.
Niken menilai, pola hias yang sangat sederhana dan teknik pembuatan patung yang kasar menunjukkan peradaban Liyangan masih sangat awal. Pola hias yang sederhana pada batu-batu candi di Liyangan lebih mirip dengan candi di Dieng yang dibangun sekitar abad ke-7, lebih tua dibandingkan dengan candi-candi di lereng selatan Gunung Merapi yang pahatan hiasannya rumit dan halus.
Agraris
Jejak kehidupan agraris di Liyangan terekam dalam bulir padi yang terbakar awan panas dan ditemukan Balai Arkeologi Yogyakarta saat melakukan ekskavasi. Bulir-bulir padi yang menjadi arang itu terkubur material letusan Gunung Sindoro setebal 6-8 meter.
Awan panas menghapus Liyangan kuno dari rekaman waktu selama 1.037 tahun hingga ditemukan kembali pada 2008. Para petambang pasir membongkar "kuburan" itu dan kampung pada zaman Mataram Kuno pun tersingkap.
Arkeolog dari Balai Arkeologi Yogyakarta, Sugeng Riyanto, mengatakan, sejak masyarakat melaporkan temuan itu, Balai Arkeologi Yogyakarta mulai meneliti kawasan itu pada tahun 2000 dan dilanjutkan pada 2009 dan 2010.
"Tahun 2000, kami menemukan batu yang konstruksinya mirip talut dan beberapa komponen batu candi ataupun arca di ketinggian 1.100-1.200 meter di atas permukaan laut," ujar Sugeng.
Penggalian itu mengungkap sebuah permukiman Mataram Kuno. Selain candi, juga ditemukan bekas dinding bangunan dari bambu dan tiang rumah yang telah menjadi arang. Dengan meneliti umur bambu yang telah berubah menjadi arang, Balai Arkeologi Yogyakarta berkesimpulan, pemusnahan peradaban akibat letusan Gunung Sindoro yang sangat dahsyat itu terjadi sekitar tahun 971 Masehi.
Ingatan terputus
Liyangan bukan satu-satunya jejak peradaban Mataram yang terkubur letusan gunung api dan kemudian ditemukan secara tak sengaja. Dampak letusan gunung api terekam sepanjang penelusuran di lereng selatan Gunung Merapi. Puluhan candi yang dibangun di lereng Merapi sekitar abad ke-9 terkubur oleh awan panas dan banjir lahar.
Hidup dikepung gunung api membuat kehidupan dan peradaban di Bumi Mataram pada masa lalu dipengaruhi letusan-letusan gunung api. Pusat Kerajaan Mataram Kuno diperkirakan berpindah-pindah mulai dari Dieng, lalu ke Magelang, hingga ke sekitar Prambanan, sebelum kemudian tiba-tiba menghilang dan berpindah ke Jawa Timur. Banyak yang menduga perpindahan ini karena dampak letusan gunung api, selain gempa bumi dan pergolakan politik.
Jejak kehidupan dari masa lalu yang terkubur material gunung api ini biasanya terlupakan sampai ditemukan secara kebetulan oleh masyarakat yang sedang menggarap lahan, membangun rumah, atau menambang pasir. Masyarakat yang menghuni kawasan Liyangan, misalnya, tak pernah mengira di bawah timbunan pasir di pinggir desa mereka pernah ada perkampungan padat pada masa lalu yang kemudian musnah karena letusan Gunung Sindoro.
Geolog dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Yogyakarta, Helmy Murwanto, mengatakan, penemuan situs Liyangan semestinya juga menjadi pengingat tentang jejak bencana akibat letusan Gunung Sindoro pada masa lalu. Terakhir, Gunung Sindoro meletus pada 1910 sehingga masyarakat kemungkinan tak memiliki memori tentang letusan dahsyat gunung ini. Padahal, gunung api aktif yang sudah lama terdiam ini pernah memiliki jejak mematikan. Peradaban yang kini dibangun banyak yang berdiri di atas tapak bencana pada masa lalu. (ROW/INE/ABK/ANG/AIK)
---:: Kerajaan Medang Mataram (Mataram Kuno) ::---
Medang Kamulan adalah wilayah atau kerajaan setengah mitologis yang dianggap pernah berdiri di Jawa Tengah dan mendahului Kerajaan Medang Mataram. “Kamulan” berarti “permulaan”, sehingga “Medang Kamulan” dapat diartikan sebagai “pra-Medang”.
Kerajaan ini dikatakan setengah mitologis karena tidak pernah ditemukan bukti-bukti fisik keberadaannya. Sumber-sumber mengenai kerajaan ini hanya berasal dari cerita-cerita rakyat, misalnya dalam legenda Loro Jonggrang, dan penyebutan oleh beberapa naskah kuno. Cerita pewayangan versi Jawa menyebutkan bahwa Medang Kamulan adalah tempat bertahtanya Batara Guru[1]. Dalam legenda Aji Saka, Medang Kamulan adalah negeri tempat berkuasanya Prabu Dewata Cengkar yang zalim. Cerita rakyat lain, di antaranya termasuk legenda Loro Jonggrang dan berdirinya Madura, menyatakan bahwa Medang Kamulan dikuasai oleh Prabu Gilingwesi.[2]
Legenda Aji Saka sendiri menyebutkan bahwa Bledug Kuwu di Kabupaten Grobogan adalah tempat munculnya Jaka Linglung setelah menaklukkan Prabu Dewata Cengkar.[3] Van der Meulen menduga, walaupun ia sendiri tidak yakin, bahwa Medang Kamulan dapat dinisbahkan kepada “Hasin-Medang-Kuwu-lang-pi-ya” yang diajukan van Orsoy,[4] dalam artikelnya tentang Kerajaan “Ho-Ling” yang disebut catatan Tiongkok. Hal ini membuka kemungkinan bahwa Medang Kamulan barangkali memang pernah ada. Baris ke-782 dan 783 dari naskah kedua Perjalanan Bujangga Manik dari abad ke-15 menyebutkan bahwa setelah Bujangga Manik meninggalkan Pulutan (sekarang adalah desa di sebelah barat Purwodadi, Jawa Tengah) ia tiba di “Medang Kamulan”. Selanjutnya, dikatakan pula bahwa setelah menyeberangi Sungai Wuluyu, tibalah ia di Gegelang yang terletak di sebelah selatan Medang Kamulan.[5] Naskah inilah yang pertama kali menyebutkan bahwa memang ada tempat bernama Medang Kamulan, meskipun tidak dikatakan bahwa itu adalah kerajaan.
Berdasarkan catatan kitab kuno badrasanti, kerajaan medang kamulan merupakan kerajaan vassal(bawahan) dari kerajaan Jawadwipa di pucangsula(Yepoti) yang kemudian dipindahkan oleh Anggana(Sanna) ke getas pejaten, sebelum akhirnya dipindahkan oleh Sanjaya (setelah naik tahta) ke daerah temanggung.
Dalam prasasti. kraton Sanjaya dikatakan terletak di Medang di Poh Pitu (ri mdang ri poh pitu). Dimana letak Poh Pitu itu hingga kini belum dapat ditentukan. Salah satu tempat yang diperkirakan sebagai pusat Kerajaan Mataram itu terletak di Medari, Sleman. Di daerah Medarintotex (GKBI Medari) pernah diketemukan bekas-bekas peninggalan purbakala berupa fondasi bangunan dan sisa-sisa tembok keliling yang terbuat dari batu andesit. Penggalian purbakala yang dilakukan disana terpaksa dihentikan karena terbentur bekuan batuan lahar yang sangat keras pada kedalaman satu meter dari permukaan tanah sekarang. Rupanya daerah ini pernah mengalami musibah dilanda lahar panas. Dari beberapa sisa bangunan yang telah diketemukan, terutama yang jelas berupa bekas-bekas sebuah tembok keliling, dapat diperkirakan bahwa daerah itu pada jaman dahulu merupakan tempat pemukiman.
Dugaan pusat Kerajaan Mataram di Medari itu bisa juga dirunut dari kalimat “ri medang ri” yang lama-kelamaan dibaca sebagai “medari”. Pendapat ini dilengkapi dengan terdapatnya desa kepitu di selatan Medari. Bukankan dalam prasasti Medang disebut terletak di Poh Pitu. Poh Pitu ini pada jaman sekarang berubah menjadi desa Kepitu. Uniknya, di sekitar desa Kepitu tersebut tidak terdapat desa Kanem atau Kewolu. Budayawan Linus Suryadi AG (almarhum) juga mempunyai pandangan serupa. Hal ini didasarkan pada fakta lapangan bahwa di sekitar desa Kadisaba, Sleman ditemukan bekas Wihara Budha. Dan tampaknya di wilayah ini banyak bangunan sekolahan jaman kuno (Wihara).
Candi yang didirikan Sanjaya diketahui letaknya, yaitu di daerah Gunung Wukir di Salam, Magelang. Maka letak istananya kemungkinan terletak di sekitar candi tersebut. “Kraton Medang kemungkinan terletak di dalam radius tertentu dari candi Gunung Wukir. Di sekitar daerah Salam atau Salaman, “kata Joko Dwiyanto.
Tidak jauh dari Medari di desa Morangan dalam bulan September 1965 pernah diketemukan sebuah candi. Candi ini diberi nama Candi Batumiring. Letaknya terbenam sedalam lima meter dibawah permukaan tanah sekarang. Keadaan ini sama seperti yang dialami candi Sambisari di daerah Kalasan yang juga diketemukan di kedalaman enam meter di bawah permukaan tanah sekarang. Berarti candi-candi itu sempat terkubur lahar Merapi. Sayang sekali, Candi ini tidak bisa ditampakkan kembali. Bahkan sekarang sudah ditimbun tanah lagi oleh pemilik pekarangan.
Banyak pihak tentu akan berpendapat bahwa Kraton Medang terletak di daerah Prambanan. Pendapat ini sangat beralasan. Prambanan merupakan daerah yang sangat kaya peninggalan monumen dari jaman Mataram kuno. Banyaknya candi yang sudah diketemukan memberi indikasi bahwa daerah ini pernah menjadi pusat kegiatan masyarakat. Apalagi Candi Prambanan dan Candi Sewu yang bisa dipastikan sebagai candi kerajaan terdapat disini.
“Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Drs. Kusen (Almarhum) sampai pada kesimpulan bahwa salah satu pusat Kerajaan Medang berada di Randusari. Desa ini terletak sekitar 3 Km di sebelah timur Candi Prambanan, “tambah Joko Dwiyanto. “Temuan emas di Wonoboyo semakin menguatkan pedapatnya itu. Menurutnya, Wonoboyo merupakan pemukiman bangsawan yang terletak di pusat Kerajaan. Memang, Wonoboyo dekat dengan Randusari.”
Candi merupakan petunjuk terdapatnya aktivitas manusia masa Hindu. Jika candi tersebut merupakan sebuah kumpulan yang luas, kemungkinan besar pusat kerajaan juga berada di sekitar tempat itu. Kesimpulan yang dibuat oleh Drs. Kusen (Almarhum) terhadap lokasi Candi Prambana, juga dilakukan oleh Drs. Martinus Maria Soekarto kartoatmojo (Almarhum) di daerah Candi Borobudur.
Kraton Medang ternyata tidak hanya di Poh Pitu saja. Raja Rakai Kayuwangi pernah menempatkan kratonnya di Mammratipura (medang i mamratipura).
Raja Rakai Panangkaran memindahkan pusat kerajaannya dari daerah Kedu ke lembah di lereng Gunung Merapi. Memindahkan pusat kerajaannya ke timur. Mungkin di daerah Sragen di sebelah timur Sungai Bengawan Solo atau daerah Purwodadi/Grobogan.Pusat kerajan Rakai Watukura Dyah Balitung berpusat di daerah Kedu Selatan mengingat gelar rakainya.
Kerajaan Mataram di Jawa Tengah mengalami kehancuran karena letusan Gunung Merapi yang maha dahsyat, sehingga dalam anggapan para pujangga hal itu dianggap sebagai kehancuran dunia pada akhir masa Kaliyuga. Maka harus dibangun kerajaan baru dengan wangsa yang baru pula. Karena itu maka Mpu Sindok membangun kembali kerajaannya di Jawa Timur. Rupa-rupanya Kerajaan itu tetap bernama Mataram. Ibukotanya bernama Tamwlang. Letak Tamwlang mungkin di daerah Jombang dimana masih ada desa Tambelang. Menurut prasasti Harinjing (726 Masehi), Watugaluh terletak di Jawa Timur.
Yang masih menjadi pertanyaan kemudian adalah kaitan antara bekas Kraton Boko dengan Candi Prambanan. Sebab di bekas Kraton Boko itu terdapat replika Candi Prambanan sebagai tempat berdoa atau ‘caos sesaji’. Namun ada dugaan lain, Kraton Boko hanya tempat peristirahatan dan benteng terakhir. Dari paparan tadi bisa jadi ada pergeseran pusat pemerintahan Mataram Kuno, dari wilayah Kedu selatan sampai di Sleman, kemudian ke timur dan setelah menjadi Mataram mungkin di sebelah timur laut kota Yogyakarta. Tentang hal ini banyak pakar berbeda pendapat. Namun dari bukti-bukti lapangan dan referensi pustaka bisa dikaji kemungkinan letak Mataram Hindu.
~ Melacak “Petilasan Mataram Kuno” antara Semarang-Yogyakarta
Jika kita melinta s di jalan raya Yogyakarta – Magelang, tepatnya di daerah kecamatan Salam secara tidak sengaja kita akan menengok ke selatan jalan. Kuburan-kuburan Cina yang terletak di lereng bukit menjadi penyebabnya. Sayang, banyak dari kita tidak tahu bahwa bukit itu menyimpan sejarah masa lalu yang penting.
Gunung Gendol, demikian penduduk setempat menyebutnya, pernah menjadi saksi meletusnya Gunung Merapi sepuluh abad silam. Menurut Van Bemmelen, seorang ahli geologi, letusan Merapi yang terhebat dalam sejarahnya itu menyebabkan sebagian besar puncaknya lenyap. Lapisan tanah bergeser ke arah barat daya, sehingga terjadi lipatan. Gerakan tanah ini membentur Pegunungan Menoreh dan membentuk Gunung Gendol.
Di Gunung Gendol ini pula babak baru Kerajaan Mataram Kuno dimulai. Peristiwanya tercatat dalam prasasti Canggal yang diketemukan di halaman Candi Gunung Wukir. Candi ini terletak di salah satu puncak Gunung Gendol. Prasasti ini menulis bahwa Raja sanjaya telah mendirikan lingga diatas Bukit Sthirangga untuk keselamatan rakyatnya pada hari Senin tanggal 13 paro terang bulan Kartika 654 Saka atau 732 Masehi. Lingga itu ialah Candi Gunung Wukir yang hingga kini masih ada sisa-sisanya.
Pendirian lingga untuk memperingati bahwa Sanjaya telah dapat membangun kembali Kerajaan dan bertahta setelah menaklukkan musuh-musuhnya. Musuh-musuh itu telah menyerang Sanna, raja yang berkuasa sebelum Sanjaya. Pusat kerajaan Sanna dihancurkan. Ibukota kerajaan diserbu dan dijarah. Karena itu setelah Sanjaya dinobatkan mejadi raja, perlu dibangun ibukota baru dengan istana baru disertai pembangunan candi untuk pemujaan lingga kerajaan. Hal ini berhubungan dengan kepercayaan bahwa istana yang telah diserbu musuh sudah kehilangan tuahnya.
Bangunan suci yang didirikan Sanjaya terletak di wilayah Kunjarakunja. Tentang nama Kunjarakunja itu, Poerbatjaraka pernah mengemukakan pendapat bahwa yang yang dimaksud dengan daerah itu adalah daerah Sleman, Yogyakarta sekarang, berdasarkan arti kata itu, yaitu hutan Gajah dan adanya daerah wana ing alas i Saliman. Kata Saliman diartikan sebagai daerah Sleman sekarang.
Nama Sanjaya semakin jelas posisinya dalam sejarah Mataram Kuno dengan diketemukannya prasasti Mantyasih (907 Masehi) dan Wanua Tengah III (908 Masehi). Kedua prasasti yang dibuat oleh Dyah Balitung itu berisi daftar raja-raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Mataram Kuno. Urutan pertama raja-raja tersebut ditempati oleh Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya (prasasti Mantyasih) dan Rahyangta ri Medang dapat disamakan dengan Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Prasasti Mantyasih dibuat untuk menghormati leluhur yang telah diperdewakan di Medang di Poh Pitu. Disini untuk pertama kalinya nama Medang disebut.
“Medang adalah nama kerajaan sebelum bernama Mataram. Jadi, kerajaan Medang sama dengan kerajaan Mataram. Lebih tepatnya, Medang adalah embrio Mataram,” kata Drs. Joko Dwiyanto-Dosen Fakultas Arkeologi UGM.
Desa Medang dijumpai mulai dari daerah Bagelen di Purworejo, Jawa Tengah sampai di dekat Madiun, Jawa Timur. Yang terbanyak ialah antara Purwodadi/Grobogan dan Blora. Lokasi daerah ini sesuai pula dengan keterangan yang ditulis oleh sumber-sumber Cina dari jaman Dinasti Tang (618-906 Masehi). Sumber ini menyebut Jawa sebagai Ho-ling. Dikatakan bahwa Ho-ling adalah kerajaan yang makmur. Ada sebuah gua yang selalu mengeluarkan air garam (bledug). Ho-ling ini sering disamakan dengan Kalingga dalam cerita tutur rakyat Jawa Tengah.
Keterangan tentang adanya gua yang selalu mengeluarkan air garam memang cocok dengan keadan di Purwodadi, Jawa Tengah. Di desa Kuwu di daerah Purwodadi terdapat kawah yang selalu menyemburkan air garam. Penduduk setempat menyebutnya Bledug Kuwu. Orang di situ membuat garam dari air yang mengalir dari kawah tersebut.
“Pendapat tersebut dikemukakan oleh Boechari (almarhum). Beliau menempatkan kronologi kerajaan Ho-ling ini sebelum Medang. Sedangkan Kalingga sebenarnya hanya ada dalam cerita rakyat. Tidak ada bukti sejarah yang yang mendukumg keberadaannya, “tambah Joko Dwiyanto”.
Karena Boechari menempatkan kronologi Ho-ling lebih tua dari Medang, yang dianggapnya terletak di Grobogan, maka masyarakat menempatkan Medang Kamulan di daerah Grobogan tersebut. “Kamulan berarti asal, yang mula-mula, yang pertama-tama. Jadi Medang Kamulan berarti letak Medang yang pertama atau asal mula medang ,”ungkap Joko Dwiyanto”.
Berita Cina selanjutnya menyebutkan bahwa Ki-yen telah memindahkan ibukota Ho-ling ke timur. Pemindahan pusat kerajaan ini terjadi tahun 899-911 Masehi. Van Der Meulen memperkirakan perpindahan itu terjadi dari sekitar Pegunungan Dieng ke kaki sebelah timur Gunung Ungaran, Jawa Tengah. Tempat yang dimaksud adalah desa Bergas Lor dan Bergas Kidul. Kedua desa ini terletak beberapa kilometer di selatan kota Ungaran. Di tempat itu terdapat Candi Sikunir. Dari candi ini banyak patung yang telah dipindahkan ke Museum Nasional Jakarta. Kurang lebih ada sepuluh arca. Belum lagi arca-arca yang dibawa secara ilegal. Di sekitar wilayah itu juga diketemukan peninggalan di Pendem, Karangjati, dan Mijel. Bekas-bekas pemandian juga diketemukan di Kali Taman dan Sindang Beji.
Jumlah cincin emas yang pernah diketemukan dan kini disimpan di Museum Nasional Jakarta sebagian besar berasal dari Dieng dan sekitar Gunung Ungaran.Di tempat itu diketemukan 77 buah cincin.
Dari penelitian Dr. Agus Pudjoarianto dari Fakultas Biologi UGM, di Dieng sudah ada kegiatan manusia dari tahun 500 Masehi. Dari telaahan serbuk sari yang dilakukan kegiatan yang dilakukan manusia berkelompok ini bisa jadi merupakan sebuah komunitas masyarakat kerajaan. Menurutnya terdapat kemiripan tumbuhan yang di tanam di Dieng dengan beberapa bagian di Jawa Barat. Dari asumsi ini bisa diduga bahwa awal Kerajaan Medang dari Jawa Barat kemudian berkembang di Jawa Tengah antara lain di Dieng. Dugaan ini diperkuat dengan banyaknya candi yang dibangun di wilayah ini. Bahkan dari kisah wayang Lahirnya Abimanyu yang mandi di Sungai Serayu (sir rahayu) terlihat adanya pemahaman akan adanya sosialitas masyarakat kerajaan. Diperkuat dengan nama candi-candi yang ada di Dieng yang diambil dari nama wayang bisa jadi di lereng Gunung Sindoro ini pernah lahir kerajaan. Dari telaah serbuk sari juga didapat bukti adanya lumpur vulkanik yang tebal yang menutupi kegiatan sebelumnya. Temuan ini memperkuat asumsi hancurnya Kerajaan Medang oleh abu dahsyat Merapi. Kota Dieng yang selalu berkabut dalam bahasa Jawa disebut “Kamulan”.
~ Perpindahan Kerajaan Medang
Pada umumnya sebutan Mataram Kuno lazim dipakai untuk menyebut nama Kerajaan ini pada periode Jawa Tengah. Nama Mataram merujuk pada nama ibu kota kerajaan ini. Kadang untuk membedakannya dengan Kerajaan Mataram Islam yang berdiri pada abad ke-16, biasa pula disebut dengan nama Kerajaan Mataram Hindu. Istilah Kerajaan Medang dipakai untuk menyebut nama kerajaan pada periode Jawa Timur. Namun berdasarkan prasasti-prasasti yang telah ditemukan sebetulnya nama Medang sudah dikenal sejak periode sebelumnya, yaitu periode Jawa Tengah.
Pada kerajaan di Jawa Tengah ,raja Wawa(924-929)serta merta tampil sebagai penguasa di jawa tengah, dibantu oleh pati sekaligus menantunya, Mpu Sindok, Wawa digantikan Mpu Sindok (929-947) yang dikenal sebagai raja berjiwa prajurid, dan sangat toleran terhadap pemeluk agama Budha Mahayana ,serta Sang Hyang Kamahaniyanikan berhasil digubah kedalam Bahasa Jawa Kuno dari Bahasa Sanksekerta. Kitap ini memuat cerita tentang dewa-dewa yang mirip dengan relief yang ada di candi Borobudur. Sebuah kitav agama Hindu Syiwa Brahmanapurana yang berisikan Kosmologi,Kosmogoni, sejarah para resi, dan cerita pertikaian antar kasta juga diterbitkan dalam waktu hamper bersamaan.
Sementara itu, nama yang lazim dipakai untuk menyebut Kerajaan Medang periode TengahKerajaan Mataram, yaitu merujuk kepada salah daerah ibu kota kerajaan ini. Kadang untuk membedakannya dengan Kerajaan Mataram Islam yang berdiri pada abad ke-16, Kerajaan Medang periode Jawa Tengah biasa pula disebut dengan nama Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Mataram Hindu. Kerajaan Medang mengalami beberapa masa perpindahan yang cukup siknifikan yaitu :
a) Medang i Bhumi Mataram (zaman Sanjaya)
b) Medang i Mamrati (zaman Rakai Pikatan)
c) Medang i Poh Pitu (zama n Dyah Balitung)
d) Medang i Bhumi Mataram (zaman Dyah Wawa)
e) Medang i Tamwlang (zaman Mpu Sindok)
f) Medang i Watugaluh (zaman Mpu Sindok)
g) Medang i Wwatan (zaman Dharmawangsa Teguh)
Pada abad ke-8 kerajaan Pra Mataram Islam (Mataram Kuno) memerintah di Jawa Tengah,dengan Sanjaya (Syiwaistik) berkuasa di Kawasan Utara (kedu), sedangkan Syailendra (Budha Mahayana) berkuasa dikawasan selatan (Bagelan dan Mataram ). Candi –candi Hindu (Dieng, Prambanan, dll) dan Budha (Borobudur, Mendut Kalasan, dll) membuktikan pada masa bersamaan di Jawa terdapat dua agama besar yang bertoleransi.
Tetapi seiring adanya pindahnya kerajaan Mataram kuno ke Jawa Timur disebabkan letusan Gunung Merapi , Mpu sindok pada tahun 929 memindahkan pusat kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.Menurut catatan sejarah, tempat baru tersebut adalah watugaluh, yang terletak disungai Brantas, sekarang kira-kira adalah wilayah Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Kerajaan baru ini tudak lagi disebut Mataram, namun Medang. Meskipun demikian, beberapa literature masih menyebutkan sebagai Mataram II.
Selain itu sebab pemerintahan Kerajaan Mataram kuno juga sempat berpindah ke Jawa Timur disebabkan selama abad ke-7 sampai ke-9 terjadi serangan-serangan dari Sriwijaya ke Kerajaan Mataram Kuno. Besarnya pengaruh Kerajaan Mataram Kuno semakin terdesak ke wilayah timur.seperti yang telah diketahui sekarang tidak diketahui nama kerajaan di JawaTengah ini sebelum masa pemerintahan Sanjaya. Nama Mataram mungkin baru dipakai sejak Sanjaya, ia bergelar rakai Mataram, demikian pula nama Medang sebagai pusat kerajaan. Cerita Parahyangan menyebutkan nama kerajaan Sanna dan Sanjaya itu Galuh. Memang dari prasasti Sojomerto dan beberapaprasasti lain yang hingga kini belum dapat dibaca, tetapi jelas menggunakan hurug Pallawa, yang ditemukan di daerah Pekalongan, mungkin sekali pusat kerajaan wangsa Sailendra itu mula-mula di daerah Pekalongan sekarang.
Setelah Sri Isyanatunggawijaya meninggal maka kerajaan medang di pimpin oleh Raja Sri Dharmawangsa teguh Anantawikramatunggadewa yaitu anaknya Sri Isyanatunggawijaya dari perkawinannya dengan Raja Lokapala. Dharmawangsa menikah dengan cucu Isyanatunggawiyaya yang lain dan mewarisi tahta mertuanya (991-1016). Selama pemerintahannya telah diterbitkan berbagai karya, diantaranya Kakawin Mahabrata, yang diterjemahkan kedalam Bahasa Jawa Kuna dari kitap Mahabrata India. Dharmawangsa menyerang Sriwijaya untuk merebut bagian selatan wilayahnya agar dapat menguasai selat sunda yang sangat penting bagi perdagangan(992).
Raja Wurawuri (kerajaan bawahan di daerah Cepu sekarang) menyerang Dharmawangsa Teguh(1016). Serangan terjadi sewaktu pesta perkawinan agung antara putri Dharmawangsa, Dharmawangsa, Sri dan Airlangga(16 tahun), keponakannya, Raja dan Para pembesar Negara gugur, tumpas-tapis, namun Airlangga dan pengiring setianya Narottama, dapat menyingkir ke pegunungan Wonogiri. Mereka hidup bersama-sama para pendeta Hindu dan biksu Budha selama dua tahun.
Setelah beberapa tahun kemudian berada di hutan, akhirnya pada tahun 1019, airlangga berhasil mempersatukan wilayah kerajaan Medang yang telah terpecah, membangun kembali kerajaan. Kerajaan baru ini dikenal dengan kerajaan Kahuripan , yang wilayahnya membentang dari pasuruan di timur hingga Madiun dibarat. Airlangga memperluaswilayahnya kerajaan hingga ke Jawa Tengah dan Bali. Pada tahun 1025, Airlangga memperlebar pengaruh Kahuripan seiring dengan melemahnya Sriwijaya. Pantai Utara Jawa terutama Surabaya dan Tuban, menjadi pusat perdagangan yang penting untuk pertama kalinya.
Setelah dikukuhkan sebagai pewaris tahta mertuanya, Dharmawangsa Teguh, Airlangga mengganti nama kerajaan Medang menjadi Kahuripan dengan ibukota Wulan Mas (1037). Setelah kerajaan Medang berpindah menjadi Kahuripan, raja Airlangga berhadapan dengan masalah pewarisan tahtanya sebagai raja, pewarisan itu yaitu Sanggrammawijaya, memilih menjadi pertapa dari pada mengganti Airlangga. Pada tahun 1045, Airlangga membagi Kahuripan menjadi dua kerajaan untuk putranya yaitu Jenggala dan Kediri (penjulu), Airlangga sendiri menjadi pertapa dan meninggal pada tahun 1049. Airlangga dimakamkan di candi Belahan dengan perluhuran sebagai wisnu naik burung Garuda.
Dengan pemecahan Kerajaan Kahuripan itu maka Pecahan kerajaan Medang berakhir, kerajaan Janggala tidak mampu berkembang menjadi kerajaan besar sehingga lenyap dari percaturan politik sedangkan kerajaan Panjalu atau Kediri semakin berkembang, dangan memiliki kekuasaan sampai perairan Indonesia bagian barat dan timur dengan raja Jayabaya-nya.
~ Sumber-sumber Sejarah Kerajaan Medang
Sumber-sumber sejarah yang menyebutkan keberadaan kerajaan Medang, sumber-sumber ini dalam bentuk candi dan prasasti antara lain
a) Prasasti Mantyasih yaitu Prasasti Mantyasih tahun 907 atas nama Dyah Balitung menyebutkan dengan jelas bahwa raja pertama Kerajaan Medang (Rahyang ta rumuhun ri Medang ri Poh Pitu) adalah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Sanjaya sendiri mengeluarkan prasasti Canggal tahun 732, namun tidak menyebut dengan jelas apa nama kerajaannya. Ia hanya memberitakan adanya raja lain yang memerintah pulau Jawa (Kerajaan Jawadwipa dig etas pejaten) sebelum dirinya, bernama Sanna(Anggana). Sepeninggal Sanna, Kerajaan Jawadwipa menjadi kacau. Sanjaya yang merupakan keponakan sekaligus raja bawahan di keraton Medang kamulan kemudian tampil menjadi raja Jawadwipa atas dukungan ibunya yaitu Sannaha saudara perempuan Sanna(Anggana).
b) Prasasti Sanggurah merupakan prasasti berangka tahun 982 Masehi yang ditemukan di daerah Malang dan menyebut nama penguasa daerah itu, Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa Sri Wijayalokanamottungga (Dyah Wawa). Prasasti berbentuk tablet ini disebut juga Prasasti Minto karena dihadiahkan oleh Raffles kepada Lord Minto, keduanya pernah memimpin Hindia Belanda ketika Britania Raya menguasai Belanda pada dasawarsa kedua abad ke-19.
c) Prasasti dinoyo yaitu prasasti yang ditemukan terputus menjadi tiga bagian. Bagian yang tengah di temukan di Desa Dinoyo, sedang dibagian atas dan bagian bawah ditemukan di Desa Merjosari, kira-kira 2 Km disebelah barat Dinoyo. Mengingat kasus di gunung Wukir dan prasasti Canggal, mungkin sekali prasasti Dinoyo ini asalnya justru dari Merjosari, yang memangternyata menghasilkan sisa-sisa bangunan. De casparis menduga bahwa batu prasasti itu berasal dari Desa Kejuron, pendapat ini mungin kurang dapat diterima karena Kejuron mungkin justru merupakan pusat kerajaan, sedang prasasti tentulah tidak didirikan dipusat kerajaan, tetapi di dekat candinya.
d) Prasasti Wantil, Mpu Manuku membangun ibu kota baru di desa Mamrati sehingga ia pun dijuluki sebagai Rakai Mamrati. Istana baru itu bernama Mamratipura, sebagai pengganti ibu kota yang lama, yaitu Mataram.Prasasti Wantil disebut juga prasasti Siwagreha yang dikeluarkan pada tanggal 12 November856. Prasasti ini selain menyebut pendirian istana Mamratipura, juga menyebut tentang pendirian bangunan suci Siwagreha, yang diterjemahkan sebagai Candi Siwa.
Selain meninggalkan bukti sejarah berupa prasasti-prasasti yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Kerajaan Mataram Kuno/Medang juga membangun banyak candi, baik itu yang bercorak Hindu maupun Buddha. Temuan Wonoboyo berupa artifak emas yang ditemukan tahun 1990 di Wonoboyo, Klaten, Jawa Tengah; menunjukkan kekayaan dan kehalusan seni budaya kerajaan Mataram.
Candi-candi peninggalan Kerajaan Medang antara lain, Candi Kalasan, Candi Plaosan, Candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Mendut, Candi Pawon, dan tentu saja yang paling kolosal adalah Candi Borobudur. Candi megah yang dibangun oleh Sailendrawangsa ini telah ditetapkan UNESCO (PBB) sebagai salah satu warisan budaya dunia.
~ Sistem Pemerintahan Kerajaan Medang
Didalam prasasti Mantyasih , Desa Mantyasih disebut sima kapatiihan karena yang mendapat anugrah adalah lima orang patih di Mantyasih, didalam prasasti Sangguran disebut sima kajurugusalyan di Mananjung, karena ada jabatan juru gusali, yaitu ketua para pandai besi, didalam prasasti Balingawan disebut sima kamulan, karena semula Desa Balingawan itu selalu diganggu oleh penjahat sehingga penduduk sering membayar denda atas pembunuhan gelap dan perkelahian gelap yang mengakibatkan seseorang menderita luka-luka. Didalam prasasti telang ada istilah kamulan dan rumah kamulan yang jelas tidak ada hubungan dengan tempat pemujaan cikal bakal Desa telang, karena menjadi pokok pembicaraan dalam prasasti itu ialah tempat penyeberangan. Berdasarkan itu semua dapat disimpulkan disini bahwa Desa Bhumisambhara itu ialah sima kamulan karena dianugrahkan kepada pejabat mula. Saying sekali hingga sekarang belum jelas apa tugas seorang mula dalam masyarakat jawa kuno.
Didalam prasasti Mantyasih tersebut tertulis daftar raja-raja Medang yang telah berkuasa dalam setiap masa pemerintahannya.daftar raja-raja tersebut sebagai berikut:
1. Sanjaya, pendiri Kerajaan Medang (Karya Candi Canggal / Penganut Hindu Syiwa)
2. Rakai Panangkaran, awal berkuasanya Wangsa Sailendra(Membangun Candi Borobudur,sebagai penganut budha mahaya" dinasti berpindah agama dari leluhurnya yang hindu syiwa")membangun juga candi Kalasan , sebagai pengormatan leluhur").
3. Rakai Panunggalan alias Dharanindra Menaklukkan Sriwijaya bahkan sampai ke kamboja, champa dan Vietnam utara berjuluk Wirawairimathana (penumpas musuh perwira)
4. Rakai Warak alias Samaragrawira Ayah dari Samaratungga dan Balaputradewa raja Sriwijaya Wirawairimathana (penumpas musuh perwira)
5. Rakai Garung alias Samaratungga Sri Maharaja Samarottungga,
Atau kadang ditulis Samaratungga, pernah menjadi raja Sriwijaya Wangsa Syailendra yang memerintah pada tahun 792 – 835 M, kemudian naik tahta di Kerajaan Medang/Mataram Kuno, sedangkan Kerajaan Sriwijaya di tempati oleh adiknya yaitu Balaputradewa. Tidak seperti pendahulunya yang ekspansionis, pada masa pemerintahannya, Sriwijaya lebih mengedepankan pengembangan agama dan budaya. Pada tahun 825, dia menyelesaikan pembangunan candi Borobudur yang menjadi kebanggaan Indonesia.
Samaratungga menikahi Dewi Tara, putri Dharmasetu. Dari pernikahan itu Samaratungga memiliki seorang putri yaitu Pramodhawardhani yang menikah dengan Rakai Pikatan.
6. Rakai Pikatan suami Pramodawardhani,
Rakai Pikatan terdapat dalam daftar para raja versi prasasti Mantyasih. Nama aslinya menurut prasasti Argapura adalah Mpu Manuku. Pada prasasti Munduan tahun 807 diketahui Mpu Manuku menjabat sebagai Rakai Patapan. Kemudian pada prasasti Kayumwungan tahun 824 jabatan Rakai Patapan dipegang oleh Mpu Palar. Mungkin saat itu Mpu Manuku sudah pindah jabatan menjadi Rakai Pikatan. Akan tetapi, pada prasasti Tulang Air tahun 850 Mpu Manuku kembali bergelar Rakai Patapan.
Sedangkan menurut prasasti Gondosuli, Mpu Palar telah meninggal sebelum tahun 832. Kiranya daerah Patapan kembali menjadi tanggung jawab Mpu Manuku, meskipun saat itu ia sudah menjadi maharaja. Tradisi seperti ini memang berlaku dalam sejarah Kerajaan Medang di mana seorang raja mencantumkan pula gelar lamanya sebagai kepala daerah, misalnya Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung.
7. Rakai Kayuwangi alias Dyah Lokapala
Menurut prasasti Wantil atau prasasti Siwagerha tanggal 12 November 856, Dyah Lokapala naik takhta menggantikan ayahnya, yaitu Sang Jatiningrat (gelar Rakai Pikatan sebagai brahmana). Pengangkatan putra bungsu sebagai raja ini didasarkan pada jasa kepahlawanan Dyah Lokapala dalam menumpas musuh ayahnya, yang bermarkas di timbunan batu di atas bukit Ratu Baka. (Pusat kerajaan tidak lagi di mataram tapi di mamratipura)
8. Rakai Watuhumalang
Rakai Pikatan memiliki beberapa orang anak, antara lain Rakai Gurunwangi (prasasti Plaosan) dan Rakai Kayuwangi (prasasti Argapura). Sedangkan Rakai Watuhumalang mungkin juga putra Rakai Pikatan atau mungkin menantunya. akhir periode rakai pikatan terjadi perpecahan di Kerajaan Medang akibat perebutan kuasa antara Gurunwangi dan kayuwangi namun sepeninggal kayuwangi, Watuhumalang yang menduduki tahta.
9. Rakai Watukura Dyah Balitung
Rakai Watuhumalang memiliki putra bernama Mpu Daksa (prasasti Telahap) dan menantu bernama Dyah Balitung (prasasti Mantyasih). Dyah Balitung inilah yang mungkin berhasil menjadi pahlawan dalam menaklukkan Rakai Gurunwangi dan Rakai Limus sehingga takhta pun jatuh kepadanya sepeninggal Rakai Watukura. Pada akhir pemerintahan Dyah Balitung terjadi persekutuan antara Mpu Daksa dengan Rakai Gurunwangi (prasasti Taji Gunung). Kiranya pemerintahan Dyah Balitung berakhir oleh kudeta yang dilakukan kedua tokoh tersebut. memindahkan pusat pemerintahan kerajaan medang dari mamratipura ke poh-pitu(sekitar kedu)
10. Mpu Daksa
Mpu Daksa naik takhta menggantikan Dyah Balitung yang merupakan saudara iparnya. Hubungan kekerabatan ini berdasarkan bukti bahwa Daksa sering disebut namanya bersamaan dengan istri Balitung dalam beberapa prasasti. Selain itu juga diperkuat dengan analisis sejarawan Boechari terhadap berita Cina dari Dinasti TangTat So Kan Hiung, yang artinya “Daksa, saudara raja yang gagah berani”
11. Rakai Layang Dyah Tulodong
Dyah Tulodhong dianggap naik takhta menggantikan Mpu Daksa. Dalam prasasti Ritihang yang dikeluarkan oleh Mpu Daksa terdapat tokoh Rakryan Layang namun nama aslinya tidak terbaca. Ditinjau dari ciri-cirinya, tokoh Rakryan Layang ini seorang wanita berkedudukan tinggi, jadi tidak mungkin sama dengan Dyah Tulodhong. Mungkin Rakryan Layang adalah putri Mpu Daksa. Dyah Tulodhong berhasil menikahinya sehingga ia pun ikut mendapatkan gelar Rakai Layang, bahkan naik takhta menggantikan mertuanya, yaitu Mpu Daksa. Dalam prasasti Lintakan Dyah Tulodhong disebut sebagai putra dari seseorang yang dimakamkan di Turu Mangambil.
12. Rakai Sumba Dyah Wawa
Dalam prasasti Wulakan tanggal 14 Februari 928, Dyah Wawa mengaku sebagai anak Kryan Landheyan sang Lumah ri Alas (putra Kryan Landheyan yang dimakamkan di hutan). Nama ayahnya ini mirip dengan Rakryan Landhayan, yaitu ipar Rakai Kayuwangi yang melakukan penculikan dalam peristiwa Wuatan Tija.
13. Mpu Sindok, awal periode Jawa Timur
Istana Kerajaan Medang pada awal berdirinya diperkirakan terletak di daerah Mataram (dekat Yogyakarta sekarang). Kemudian pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dipindah ke Mamrati (daerah Kedu). Lalu, pada masa pemerintahan Dyah Balitung sudah pindah lagi ke Poh Pitu (masih di sekitar Kedu). Kemudian pada zaman Dyah Wawa diperkirakan kembali ke daerah Mataram.
Mpu Sindok kemudian memindahkan istana Medang ke wilayah Jawa Timur sekarang. Dalam beberapa prasastinya, ia menyebut kalau kerajaannya merupakan kelanjutan dari Kerajaan Medang di Jawa Tengah. Misalnya, ditemukan kalimat berbunyi Kita prasiddha mangraksa kadatwan rahyangta i Bhumi Mataram i Watugaluh.
14. Sri Lokapala suami Sri Isanatunggawijaya
Sri Isyana Tunggawijaya merupakan putri dari Mpu Sindok, yaitu raja yang telah memindahkan istana Kerajaan Medang dari Jawa Tengah menuju Jawa Timur. Tidak banyak diketahui tentang masa pemerintahannya. Suaminya yang bernama Sri Lokapala merupakan seorang bangsawan dari pulau Bali.
Peninggalan sejarah Sri Lokapala berupa prasasti Gedangan tahun 950 yang berisi tentang anugerah desa Bungur Lor dan desa Asana kepada para pendeta Buddha di Bodhinimba. Namun, prasasti Gedangan ini merupakan prasasti tiruan yang dikeluarkan pada zaman Kerajaan Majapahit untuk mengganti prasasti asli yang sudah rusak.
Prasasti atau piagam dianggap sebagai benda pusaka yang diwariskan secara turun-temurun. Apabila prasasti tersebut mengalami kerusakan, ahli waris biasanya memohon kepada raja yang sedang berkuasa untuk memperbaharuinya. Prasasti pembaharuan ini disebut dengan istilah prasasti tinulad.
Tidak diketahui dengan pasti kapan pemerintahan Sri Lokapala dan Sri Isyana Tunggawijaya berakhir. Menurut prasasti Pucangan, yang menjadi raja selanjutnya adalah putra mereka yang bernama Sri Makuthawangsawardhana.
15. Makuthawangsawardhana
Jalannya pemerintahan Makutawangsawardhana tidak diketahui dengan pasti. Namanya hanya ditemukan dalam prasasti Pucangan sebagai kakek Airlangga. Disebutkan bahwa, Makutawangsawardhana adalah putra pasangan Sri Lokapala dan Sri Isana Tunggawijaya putri Mpu Sindok.
Prasasti Pucangan juga menyebut Makutawangsawardhana memiliki putri bernama Mahendradatta, yaitu ibu dari Airlangga. Dalam prasasti itu juga disebut adanya nama seorang raja bernama Dharmawangsa, namun hubungannya dengan Makutawangsawardhana tidak dijelaskan.
16. Dharmawangsa Teguh, Kerajaan Medang berakhir
Prasasti Pucangan tahun 1041 dikeluarkan oleh raja bernama Airlangga yang menyebut dirinya sebagai anggota keluarga Dharmawangsa Teguh. Disebutkan pula bahwa Airlangga adalah putra pasangan Mahendradatta dengan Udayana raja Bali.
Adapun Mahendradatta adalah putri Makuthawangsawardhana dari Wangsa Isana. Airlangga sendiri kemudian menjadi menantu Dharmawangsa.
~ Keadaan masyarakat
Didalam struktur pemerintahan kerajaan-kerajaan kuno, raja(sri maharaja) ialah penguasa tertinggi.sesuai dengan landasan kosmogonis,raja ialah penjelmaan dewa di dunia. Hal itu ternyata dari gelar abhiseka dan pujian-pujian kepada raja didalam berbagai prasasti dan kitab-kitap susastra Jawa kuno sejak raja Airlangga. Dari zaman Mataram kuno hanya ada dua orang raja yang bergelar abhiseka dengan unsure tunggadewa, yaitu Bhujayotunggadewa didalam prasasti dari Candi Plaosan Lor dan Rakai Layang Dyah Tulodong Sri Sajjanasanmatanuragatungadewa. Didalam kerajaan Mataram secara khusus menganut suatu landasan kosmogonis yaitu kepercayaan akan arus adanya suatu keserasian antara dunia manusia ini ( mikrokosmos) dengan alam semesta (mikrokosmos).
Disini akan disajikan gambaran besarnya saja dalam garis besarnya saja, dimulai dengaan golongan elite ditingkat pusat. Di ibu kota kerajaan, yang menurut berita-berita cina dikelilingi oleh dinding, baik dari batu bata maupun dari batang-batang kayu, terdapat istana raja yang juga dikelilingi oleh dinding. Didalam istana itulah berdiam raja dan keluarganya, yaitu permaisuri, selir selir, dan anak-anaknya yang belum dewasa, dan para hamba istana(hulun haji, watek I jro). Diluar istana, masih didalam lingkungan dindinga kota, terdapat kediaman putra mahkota (rake hino), dan tiga orang adiknya (rakai hulu, rakai sirikan dan rakai wra), dan kediaman para pejabat tinggi kerajaan.
Dilingkungan tembok ibu kota kerajaan tinggal kelompok elite dan non-elite, raja dan keluarganya mengmbil tempat tersendiri. Hungungan antara raja secara langsung dengan kelompok non-elite sulit terlaksana, sedang dengan kelompok elite birokrasi saja hubungan itu henya terjadi secara formal.
Didalam landasan Kosmogonis masyarakat yaitu menurut kepercayaan ini manusia selalu berada dibawah pengaruah kekuatan-kekuatan yang terpancar dari bintang-bintang dan planet-planet. Kekuatan itu dapat membawa kebahagian , kesejahteraan , dan perdamaian atau bencana kepada manusia, tergantung dari dapat atau tidaknya individu , kelompok-kelompok sosial, terutama kerajaan,menyerasikan hidup dan semua kegiatannya dengan gerak alam semesta.
Agama resmi Kerajaan Medang pada masa pemerintahan Sanjaya adalah Hindu aliran Siwa dan Buddha aliran Mahayana. Kemudian pada saat Rakai Pikatan berkuasa, agama Hindu dan Buddha tetap hidup berdampingan dengan penuh toleransi. Didalam stratifikasi sosialnya masyarakat didalam kerajaan Medang masih menggunakan kasta-kasta didalam agama Hindu baik kedudukannya didalam struktur birokrasi maupun kedudukannya berdasarkan kekayaan materill.
Menurut ajaran agama Hindu , alam ini terdiri atas suatu benua pusat berbentuk lingkaran, yang bernama jambudwipa. Benua ini dilingkari oleh tujuh lautan dan tujuh daratan, dan semua itu di batasi oleh suatu pegunungan yang tinggi. Ditengah–tengah Jambudwipa berdiri gunung Meru sebagai pusat alam semesta. Matahari , bulan , dan bintang-bintang bergerak mengililingi Gunung Meru itu. Di Puncaknya terdapat kota dewa-dewa, yang di kelilingai oleh tempat tinggal ke delapan dewa penjaga mata angin (Lokapala).
Dengan singkat dapat dikatakan bahwa seorang raja harus berpegang teguh kepada dharma, bersikap adil, menghukum yang bersalah dan memberikan anugrah kepada mereka yang berjasa( wnang wgraha anugraha), bijaksana, tidak boleh sewenang-wenangnya. Waspada terhadapgejolak dikalangan rakyatnya, berusaha agar rakyat senantiasa memperoleh rasa tentram dan bahagia, dan dapat memperlihatkan wibawanya dengan kekuatan angkatan perang dan harta kekayaannya.
Di bidang ekonomi penduduk Medang sejak periode Bhumi Mataram sampai periode Wwatan pada umumnya bekerja sebagai petani. Kerajaan Medang memang terkenal sebagai negara agraris, sedangkan Kerajaan Sriwijaya merupakan negara maritim.
Dibeberapa prasasti telah memberi keterangan akan adanya masyarakat yang mengenal ekonomi di wilayah kerajaan,di pedesaan pertama-tama sudah mengenal hasil bumi seperti beras, buah-buahan, sirih pinah, dan buah mengkudu. Juga hasil industry rumah tangga, seperti alat perkakas dari besi dan tembaga, pakaian, paying keeranjang dan barang-barang anyaman , kejang kepis, gula, arang, dan kapur sirih. Binatang ternak seperti kerbau, sapi, kambing , itik dan ayam serta telurnya juga diperjualbelikan.
Prasasti tidak menyebutkan komoditas ekspor, dan hanya ada satu barang yang mungkin diimpor yaitu kain buatan India (wdihan buat kling). Akan tetapi, data tentang masalah ekspor-impor itu diperoleh darr berita-berita Cina. Ekspor dari pelabuhan–pelabuhan di Jawa terdiri atas hasil bumi dan hutan Pulau Jawa sendiri dan dari Pulau-pulau yang lain, terutama dari Kaliimantan dan Indonesian bagian timur. Komoditas ekspor itu antara lain garam yang di hasilkan dipantai utara Pulau Jawa, terutama didaerah Kembang dan Tuban , kain Katun dan Kapuk, Sutra tipis dan Sutra kuning, damas, kain brokat berwarna-warni, kulit penyu, pinang, pisang raja, gula tebu, kemukus, cula badak, mutiara, belerang, gaharu, kayu sepang, kayu cendana.,cengkeh, pala, marica, dammar, kapur barus dan lain-lainnya.

Agung Setya Nugraha

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

4 comments:

Unknown said...

Saya berasal dari desa bergaslor.
Memang masih banyak peninggalan-peninggalan sejarah yang terkubur di area persawahan desa kami, terutama arca dan bekas candi..
Untuk itu sekiranya ada team arkeolog yang menggali bukti-bukti sejarah tersebut, agar semua orang tahu tentang sejarah zaman dahulu di desa kami...

Agung Setya Nugraha said...

Salam kenal mas, terima kasih sudah memberi komentar di sini.

Oh ya? Mas Gerry apakah ada cerita-cerita lokal yang bersifat legenda yang dituturkan turun-temurun secara lisan di lingkungan tempat tinggal anda?

Unknown said...

Jika di purwodadi tak ada artefaknya maka itu salah besar.sebenarnya banyak tinggalan dari mendiang kamulan di purwodadi.baru saja akhir taun 2015 tinggalan mendhang kamulan di purwodadi di temukan berupa pondasi bangunan.di masa kolonial belanda, saya pribadi pernah dapat kertas data laporan temuan berbagai perhiasan logam yg ditandatangani oleh pemerintah belanda.kertas itu merupakan dokumen yg tercecer semenjak invasi jepang tuk mengusir belanda di indonesia.sekarang berbagai tulisan termasuk majalah era belanda sudah dihanyutkan oleh pengelolanya karena dianggap sampah usang.saya dapati kertas dokumen itu dengan cara mencuri tuk kebutuhan bikin selongsong mercon.maklum dulu masih anak ingusan.saya dan teman2 berhenti mencuri kertas tuk selongsong mercon itu gara2 hal sepele yakni bertemu makhluk seperti dan sebesar gorila.kata orang2 itu gendruwo.setelah itu saya tak punya teman lagi yg berani mencuri kertas di gudang tua yg pernah dipakai jepang tuk simpan beras dari pribumi.kertas yg menurutku menarik itu saya simpan di perpustakaan kakek saya.aman.mulai tak aman ketika kakek wafat dan semua buku kakek diangkut paman saya.saya tak tau kapan mengangkutnya karena saya lebih banyak di luar kota tuk kuliah.sampai sekarang tak tau kemana kertas dokumen itu.paman juga ngaku tak tau.tapi...saya ingat betul isi dokumen berupa temuan logam bermotif dari tahun ke taun.terakhir di kertas itu tahun 1935.dan....saya pernah riset kecil atas temuan warga dan warga membenarkan.umumnya benda ditemukan setelah siklus banjir.semenjak waduk kedungombo dibangun tuk purwodadi,boyolali dan sragen,siklus banjir berhenti dan temuan logam jarang lagi.yg baru saja ditemukan warga kemaren adalah artefak arsitektural.temuan ini bisa berlanjut sampai ke perbatasan blora dan sragen.oke trims.

Agung Setya Nugraha said...

Wah sampai segitunya ya pak?....Sayang tidak semua orang memiliki kesadaran akan nilai historis peninggalan-peninggalan sejarah masa lalu. Juga pembangunan selain memiliki sisi positif atas nama kemajuan ternyata juga punya ekses yang demikian merugikan. Sungguh disayangkan.....